Sabtu, 26 November 2011

Harga Diri (Bagian II)

Mengapa satu kekalahan sangat berarti bagi saya? ini bukan kali pertama saya merasa kelas saya di nomor 2 kan. Contoh yang lain:
  1. Ketika Festival Budaya 8, kelas saya mengambil budaya Jepang. Kalau dibilang stand yang kami buat sangat kedai Jepang, ada pagar bambunya, ada pohon bambu untuk wishlist, ada tirai-tirai bambunya, ada hiasan dinding minimalis ala Jepang, lalu kami membawa samurai, lalu di depan stand kami yang berbentuk kerucut atapnya, bertuliskan selamat datang dalam bahasa Jepang, bahkan kami membawa tukang yang membuat sushi dan menjual akesesoris Jepang lalu kami juga membuat games yang menangkap ikan dalam kolam. Baju-baju kami juga Jepang sekali mulai dari Kimono sebagai budaya tradisional hingga One Piece sebagai budaya pop. Pendatang pada stand kami juga ramai, lebih ramai dari tempat lain, ketika saya liat DP BBM teman saya yang berlatar belakang stand kami, benar-benar seperti terasa di Jepang. Lalu apakah kami menang? Tidak. Yang menang adalah kelas X yang membuat gapura seperti streofoam buatan orang lain. Bukan handmade, sedangkan kelas saya handmade semua, kecuali Sushi dan souvenirnya. Memang sederhana, cuma stand kami "Jepang Banget"
  2. Pada festival yang sama kami mengikuti lomba memasak. Saya lupa apa yang teman saya buat, kalau tidak salah udon atau sushi gitu, pokoknya ada seafoodnya. Tebak apa yang juri makan? wortelnya, yang notabanenya pelengkap masakan. Menang? Jelas tidak.
  3. Pernah ada di informasi sekolah lewat speaker kelas mengumumkan beasiswa/pertukaran pelajar begitu. Untuk siapa? Kelas IPA dan Kelas X, kelas kami? Tidak.
  4. Tiap lomba yang sekolah kami juarai selalu diumumkan, kalau kelas kami yang juara, tidak pernah disebutkan dalam upacara.
  5. Jadwal ujian untuk IPS dan Humanity agak gila, mengapa? Dalam satu hari terdapat 2 mata pelajaran IPS yakni Ekonomi dan Geografi sehingga hafalannya gila-gilaan, dan hari lain pelajaran 2 pelajaran bahasa jadi satu. Sedangkan anak IPA dipisah tiap mata pelajaran IPA-nya. Alhamdulillah jadwal ini berubah setelah kami protes.
  6. Kami juga punya bintang kelas yang bisa dibanggakan seperti teman saya Sisi yang telah menulis artikel di beberapa koran dan majalah, menjadi pantia acara-acara penting, menjuari lomba-lomba bidang sosial, menjadi duta antikorupsi, tapi tetap saja tidak dikenal seperti orang-orang OSN lainnya.
  7. Terakhir pengalaman pribadi saya, dari awal penentuan jurusan sampai naik kelas saya tidak bimbang masuk IPS, sampai orang tua saya dipanggil ke BK apakah betul saya mau IPS. Namun akhirnya saya dimasukan ke IPA. Nilai IPS saya juga tidak kurang, bahkan lebih tinggi dari nilai IPA saya. Sehingga saya harus membuat surat permohonan untuk masuk ke kelas IPS. Alasannya sepele :karena nilai saya cukup untuk masuk IPA. Jadi, secara tidak langsung IPS kelas buangan? walaupun nilai dan minat saya ke IPA?
Diskriminasi ini semakin terlihat jelas ketika ada teman (umpamakan A) dari teman saya(Umpamakan B) menyindir si B. Si A anak IPA yang selalu menggoda B kalo B pasti tidak bisa mengerjakan soal matematika pelajaran IPA, lalu tibalah masa ujian. Ternyata nilai si A lebih rendah dari nilai si B dan si A meminta B untuk mengajari A soal matematika tersebut. Belakangan saya tahu bahwa, si A ingin masuk jurusan yang B ingini. Kesal tidak?

Wahai guru, teman, orang-orang yang saya sayangi dan menganggap rendah kepada bidang sosial, hargailah kami para pelajar yang berusaha memahami ilmu sosial yang ada di masyarakat. Mengapa ilmu sosial harus dipelajari?
  1. Penelitian "How Islamic are Islamic Countries?" menyebutkan bahwa Selandia Baru dan negara2 eropa barat lebih Islami dibanding Indonesia. Apa indikatornya? Hal-hal yang terdapat pada hadist dan Al-Quran mengenai hubungan sosial-kemasyarakatan lebih terasa di negara-negara tersebut. Karena apa? karena mereka lebih berbudaya dan menghargai hubungan sesama manusia, Indonesia? Tidak. Mungkin terlalu sibuk sama teknologi :)
  2. Teknologi di Indonesia semakin canggih, berarti ilmu eksakta cukup dihargai, sangat malah. Sedangkan krisis sosial, ekonomi, budaya direbut, kriminalitas masih merajalela. Lalu ilmu apa yang sebaiknya dipelajari? Sosial bukan?
  3. Indonesia kehilangan Timor Leste ketika presidennya sangat ahli dalam teknologi bukan? Kepintaran ekstakta saja tidak cukup untuk memerintah dan memimpin.
Itu baru saja beberapa hal yang terjadi kalau saja kita terus merendahkan ilmu sosial, bisa-bisa negeri ini hanya terdiri dari orang-orang pintar yang tak memiliki kepribadian dan tak mampu menghadapi masalah-masalah sosial. Tinggalah Indonesia negera budak yang hanya bisa diperintah bangsa lain di negeri lain dan di negeri sendiri.

Seperti kata Pramoedya Anata Toer:
“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”

dan

“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?

(Jejak Langkah, h. 32)

Pramoedya Ananta Toer

dan kata WS. Rendra:
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Mari mulai menghargai bidang sosial dan terapkan ilmunya!

Harga Diri



Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


-Chairil Anwar

Puisi diatas adalah puisi yang dibuat Chairil Anwar ketika ia merasa direndahkan ketika membuat sastra yang tidak terikat pada aturan-aturan sastra lama. Ia merasa dipinggir
kan dan banyak tokoh-tokoh senior yang merendahkan dia. Hal ini terlihat pada: "Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang". Namun, ia ungkapkan bahwa ia akan menjadi
orang yang akan dikenal sampai waktu yang lama. Hal ini terlhiat pada : "Aku mau hidup seribu tahun lagi". Ya, memang ia tokoh yang dikenal sampai sekarang. Bahkan ketika kita bicara sastra, namanya lah yang sering kita dengar dari orang-orang awam sastra.

Hal yang Chairil Anwar rasakan ketika itu, saya rasakan ketika saya berada di sekolah. Jadi, kelas saya, kelas Ilmu Pengetahuan Sosial, yang menjadi satu-satunya kelas IPS di angkatan saya, mengikuti lomba tentang Sea Games, membuat poster dan membuat kliping. Memang kalau poster kami kurang. Gambarnya sih oke, cuma mungkin kurang berwarna dan kurang tipografi yang menjadi syarat penilaian. Tapi kalau kliping. . . . . saya dan kelas saya (sangat) tidak bisa menerima kekalahan ini pada awalnya. Tapi sekarang sih fine-fine saja. Kami sudah bersifat apatis kepada sekolah. Begini ceritanya:

Kelas kami dibagi menjadi dua kelompok: membuat kliping dan membuat poster. Tim pembuat kliping telah merencanakan semuanya dengan matang. Kami memberikan tema Sea Games : Ekspresi Nasionalisme. Kami membaginya menjadi Tiga bagian utama : Persiapan, Optimisme, dan Gol (Tujuan) dan sebagai pembatas bagian utama kami membuat pembatas yang beruba, anyaman, pop-up, dan gambar-gambar. Kami bahkan sempat berkonsultasi dengan teman ibu (yang cukup ahli dalam hal seperti ini) dari Sisi (siswi XII IPS) untuk membicarakan judul dan isi dari kliping kami. Tulisan dalam kliping kami bisa dikatakn rapi, karena walaupun tidak diketik dengan komputer, tapi tulisan Yunisa sangat rapi dan ia selalu menulis dengan penggaris hingga rata kiri dan kanan. Lalu soal warna, Kliping kami colorful, tiap halaman beda warna dan penuh gambar. Hampir tiap artikel dalam kami dikomentari oleh Sisi, ia sering menulis artikel di beberapa majalah dan koran. Katanya, kliping yang baik itu dikomentari tiap artikelnya. Berita kami memang sedikit yang unik, tapi ada bukan tidak ada sama sekali. Karena jarang sekali ada berita unik tentang perlombaan olah raga, paling-paling hanya score saja.

Jadi untuk masalah keterkaitan kliping dengan tema Sea Games, keterkatian tema dengan isi, kreativitas, struktur dan teknik penulisan, boleh dibilang karya kami baik..... bahkan sangat baik. Bukan kami terlalu percaya diri. Tapi pernah kan merasa karya sendiri sudah baik? Hingga kami merasa jika kami kalah, pasti yang menang sangat bagus klipingnya. Kami menerima kekalahan kami, kalau memang ada yang lebih bagus dari kami. Tapi..... ternyata yang menang bagaimana? Hanya kertas HVS Putih, ditempel-tempel dan dijilid. Saya akui, saya memang tak melihat isi dalamnya, tapi ya sakit hati aja di kalahin saya kelas X yang cuma ngeijilid gitu aja, padahal kami kerja hampir setengah kelas dan teknik pembuatan kliping seperti itu bisa dilakukan sendiri ketika saya SD. Kami jelas kurang menerima hal ini. Kami bikin kliping berjam-jam, beberapa dari kami tidak makan, dan tidak menang. Untuk soal kerapihan saya akui memang tidak rapi, karena ukuran kertas yang berbeda-beda, sehingga harus dipotong menyesuaikan HVS, dan tidak dijilid seperti halnya ketiga pemenang karena terlalu tebal, sehingga kurang terlihat "ok".

Untuk bayangannya saja saya akan berikan gambar covernya :

Tulisan "Ekspresi" ditulis dengan manik-manik yang ditempel dengan lem dan kertas dibelakangnya itu dari kertas HVS warna-warni yang dipotong lalu disusun seperti itu. Ini pembatas awal bagian persiapan yang diayam hitam-putih mirip papan catur:

Niat bukan? Niat kami terlalu besar pada lomba ini. Sementara beberapa kelas lain nonton DVD, kami membikin karya ini. Ya, kalo gak menang, ya coba deh dapet juara III gitu. Jadi, gak sakit hati amat. Yang kami cari bukan hadiah, sama sekali bukan. Kami bahkan tak tahu hadiahnya apa. Yang kami ingin cuma satu, dipanggil ketika upacara sebagai pemenang. Itu saja. Kami ingin menaikan harga diri kami, yang biasanya disepelekan oleh guru-guru bahkan teman-teman kami sendiri.



Bersambung . . . . .

Sabtu, 01 Oktober 2011

Sabtu yang Mesra

Tak pernah sabtu terasa begitu mesra.

Ketika harapan dan komitmen melebur menjadi satu.

Menghasilkan sebuah realita yang dipertanyakan adanya.

***
Kami berlari.

12000 meter bukan tanpa arti.

Menahan nafsu untuk berhenti atau mendahului.

Kami bersama.

Dalam suatu lingkaran mengubur segala prasangka.

Kami belajar.

Tentang pengorbanan.

Tentang komitmen.

Tentang kepecintaalaman.

Tentang usaha.

Tentang hidup.

"Pintu 1" pun menjadi saksi.

Selamat Datang Oktober!

Sudah sebulan saya tidak menulis di blog ini. Bisa dibilang saya sibuk dan kakak saya memonopoli kabel LAN yang hanya satu-satunya di rumah ini. Kakak kedua saya adalah seorang gila internet, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, membangun hubungan dengan orang-orang arab-muslim yang ia kenal lewat situs pertemanan muslimah.com.

Satu bulan ini saya juga sedang sibuk, (tidak sibuk-sibuk amat sih) mempersiapkan dan melaksanakan proker lintas bidang 8Schoolastic.

8Schoolastic semacam lomba ilmu pengetahuan dan seni (untuk lebih lengkapnya bisa dicari di google) yang berskala nasional. Saya bangga dengan proker ini. Proker ini seperti sebuah anomali ditengah cup dan pentas seni yang berjamuran di SMA Jakarta. Enam dari sepuluh lomba berskala nasional pula dan alhamdulilah tidak ada satu pun masalah yang berarti dalam pelaksanaan 8Schoolastic. Hampir semua perserta merasa puas dan senang.

Oh ya, karena ini berskala nasional, pesertanya pun beragam dan yang paling jauh adalah dari Malingping, Palembang, dan Kalimantan Timur. Sayangnya peserta dari Papua tidak dapat hadir. Untuk peserta nasional yang tak dapat menginap di hotel, kami menyediakan jasa homestay. Para peserta dapat menginap di rumah murid SMA N 8, dan kos-an dekat sekolah.

Terakhir, peserta lomba dapat menikmati closing 8Schoolastic, yakni Colabor8 di Gedung Kesenian Jakarta. Sumpah, kalau saya jadi peserta luar daerah, ini merupakan pengalaman yang menarik tinggal di rumah orang melakukan lomba dan dihibur oleh sajian drama musikal.

Lomba yang paling menarik perhatian saya adalah Marathon MIPA dan MUN. Mengapa? Karena Marathon MIPA ternyata benar-benar marathon, lari dari satu ruangan ke ruangan lainnya mengerjakan soal biologi, fisika, kimia dan matematika dalam tiap ruangan. Sedangkan MUN adalah lomba terelite yang pernah saya lihat. Berpakaian formal, berbahasa inggris dengan nama negara-negara PBB di depannya.

Semoga angkatan 2013 tetap melanjutkan proker ini.

***

Hari ini tanggal 1 Oktober, awal yang baru. Satu bulan lagi serah terima jabatan dari angkatan 2012 ke 2013. Jadi semua mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan sertijab tersebut. Pemilihan Ca.Ka dan sebagainya. Namun, bukan itu yang saya tunggu-tunggu. Rapat pencairan Puapala akan diadalah pada tanggal 8 Oktober 2011. Itulah yang membuat saya tak sabar!! Penantian sembilan bulan, Bung! Kami semua berkumpul untuk menentukan konsep baru Puapala. Langkah baru, komitmen baru dan harapan baru.

Benar-benar tak sabar!

Rindu Lukisan

Entah mengapa akhir-akhir ini saya teringat Gito Rollies, vokalis yang paling saya kagumi selain Ade Firza Paloh, Lou Reed, dan Iwan Fals.

Saya suka suara Gito Rollies, serak, tebal, namun nyaman. Yang jelas suaranya sangat khas.

Ia datang ke dalam pikiran saya dengan lagu yang berjudul "Rindu Lukisan". Ada banyak versi mengenai lagu ini. Tapi yang paling saya suka adalah versi Gito Rollies dalam film "Kereta Api Terakhir".


Enjoy :)




Kamis, 01 September 2011

Be Better




Hari ini ulang tahun saya dan ini kado yang paling berkesan bagi saya sampai sekarang. Uangnya sih pake uang saya. Ya, anggep aja deh ini kado dari Allah. Bukunya bagus, bikin otak saya mikir kalo apa yang saya lakuin tuh belom cukup, harus ada different ways nya. Lalu saya juga baru bikin notes yang berjudul "BE BETTER BOOK" ya intinya progress-progress saya dalam mewujudkan different ways. Cheers :)

Selasa, 23 Agustus 2011

Video Klip Teranyar

Konsep video klip yang baru-baru ini menarik perhatian saya lihat : pemain band sedang latihan atau recording diselingi oleh percakapan para pemainnya.

Kualitas videonya sangat baik tapi kalo lagi dengerin musiknya dan tiba-tiba ada orang yang ngobrol males juga ya.




Radiohead membawakan delapan lagu dalam album King of the Limbs di basement






White Shoes and The Couples Company ketika recording dalam lagu Vakansi




White Shoes and The Couples Company ketika lauching album Vakansi di Jaya Pub.

Sebenernya saya suka-suka saja dengan konsep yang baru ini, pemusik jadi terlihat "bener-bener" main musik tidak cuma akting saja dan terlihat juga lebih "manusia" (mungkin karena ada adegan ngobrol-ngobrolnya). Tapi saya adalah penikmat video klip. Dengan adanya video klip saya suka ngebayangin ikut dalam lagu dan video tersebut.

:)

Jumat, 12 Agustus 2011

Senior Year


This year is my senior year. Inysa Allah, this year will be the last year I wear uniform. Aaaaaaamin

The most lovable

I love this picture because...... I LOOKED BRIGHT!! ~(^.^)~

I like perspective and I do like long street. I'm sorry for the inconvenience when look at the picture, my scanner is damaged :))

Hari Sinetron (bagian satu)


Pernah merasa kalau hari yang kita alamin tuh bener-bener kayak sinetron? Ya, Saya pernah 29 Juli tepatnya. Waktu itu Anvaya, band yang saya manager-in bermain di Revival. Hari itu hari terakhir masuk sekolah sebelum puasa, dan jam sekolah pun dicepatkan. Kami sepakat untuk berlatih dulu di studio band daerah Manggarai sampai pukul 13.30. Prediksi kami adalah kami latihan sampai pukul 13.30 lalu siap-siap berangkat pukul 13.45 dan sampai di Istora Senayan Pukul 14.30 dan manggung pukul 15.00.

Ternyata banyak kendala yang harus kami alami, seperti mobilnya Richard yang tiba-tiba tidak bisa mengantar kami, supirnya Tedo yang tidak bisa ikut karena tempat dudukny
a tidak muat dan ditutupnya jalan di daerah Sudirman. Karena kami rasa, kami sangat telat Tedo berganti celana dan pakaian di dalam mobil sambil menyetir pas macet! Kami bersesakan di mobil Kijang milik Tedo, kepanikan kami menjadi-jadi karena kami ditelponin oleh Fani (panitia Revival) dan kata ia, kami hampir tidak manggung di Revival karena telat 30 menit.

Sampai di Istora kami bergegas mengganti seragam kami. Setelah itu Tedo dan additional violin latihan dalam ruang tunggu dan Tamara (panitia Revival) pun datang, "Maaf banget nih Do, gue udah berusaha tapi susah banget buat ubah jadwalnya". Lalu mas Event Organizernya pun bilang kalau sampai L'Alphalpha telat kami boleh main, mereka (L'Alphalpha) dicoret dari rundown. Kami pun sangat gelisah, pada saat itu semua lelucon Bima dan Zidni sangat tidak lucu bagi saya.


Tamara datang kembali, "Guys, maaf banget tapi L'Alphalpha udah dateng. Silakan nonton Revivalnya ya. Maaf banget". Oke, pada saat itu, semua personil tampak kecewa apalagi Tedo. Rencananya, Revival adalah event terakhir Anvaya tahun ini dan tahun depan. Karena hampir semua personilnya kelas XII. Ya, mungkin event ini bukan yang terakhir. Tapi entah kenapa saya rasa bahwa Anvaya akan tampil.

Tedo merasa sangat kecewa. Ia pergi meninggalkan kami, sedangkan kami malah makan ayam bakar. Karena motto kami : Tak jadi main tak apa, asal dapet makan gratis.

Akhirnya, Tedo datang dan bilang,"Oke gak papa kita gak main, asalkan kita main di suatu tempat biar reda emosi gue". Semua menyutujui. Anvaya bermain di lapangan parkir Istora secara akustik. Saat itu serasa begitu melankolik, entah kenapa. Ghani dan Dimas mengambil gambar dan video dari permainan mereka. Lalu tiba-tiba Bima lari ke arah Istora dan mencari Fani. Setelah bermain akustik kami masuk ke dalam, ternyata mas EO bilang, "Anvaya jadi main tapi setelah istirahat dan hanya bisa bawain 2 lagu". Jeng Jeng Jeng!!!! What A Sinetron Day!!! Yup, akhirnya Anvaya main di Istora loh kawan!! Jadi, seakan-akan Anvaya bermain untuk pembukaan band-band yang malam, band yang papan atas. Penontonnya pun lebih banyak dari yang jam 15.00 tadi. Fyuuhhhh.

Dan dari kejadian ini saya berfikir bahwa untuk mendapat suatu kenangan yang tidak akan dilupakan butuh deg-degan setengah gila, kebelet pipis dan laper parah :)

GOOD JOB ANVAYA!!!

Photography


I think photo is not only an art. It's a small piece of paper which can remind you anything about your past and gives you feelings of emptiness. So, that's why I love photography.

When I looked at my photos, I thought everything was changed rapidly. My parents, friends, sisters, family, school, everything. At the same time, I just want to back at the moment in those photos, because I want to keep them from change itself. But, I can't do that off course. So, I just can see my photos and pretend that they've never changed.

I really love photography and I choose analog camera to express it. Why? Because I enjoyed the time when I was waiting to see the result of my camera and I think the result is quite good, anyway.


I'm not using Lomo now, maybe later. Lomo is expensive for me, So I bought an analog camera which is (more and more) cheaper then Lomo. It is only 100k rupiahs!!! It can't do zoom and the flash is sooo bright. I bought it near Pasar Tebet.


These are the result :

I don't know what kind of the roll that I used. But, It contains 36 negatives and 2 negatives can't be print.



A few of the photos

And the last is, Photo makes me so grateful about what I've done in my life. I passed the sadness, nervousness and happiness. I captured it on photos. I kept them. Because they remind me all experience that coloring my days.

Kamis, 07 Juli 2011

Secret Admirer

Kak Adi, 8 2009. Gak ngefans sih, cuma suka aja gambar dia. Yang dateng ultah Beavers, pasti ngeh.

Selasa, 05 Juli 2011

Tenaga Endogen

Begitu banyak yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini, hal ini membuat saya merenung : apakah ini yang namanya "new challenges and new experience" yang saya doakan dalam tahun baru?

Mungkin.

Semua rusak dan hilang, bagai letupan gunung berapi. Tapi seperti tenaga endogen lainnya, ia membangun kesuburan.

Layaknya hidup saya sekarang, badai belum berlalu, tapi pasti akan berlalu, meski mati adalah ujungnya.

Semakin kesini, semakin saya sadari betapa lemahnya saya. Saya kecil tak ada daya.


P.S: Saya belum dapat memposting yang macam2 seperti foto dan lainnya. Komputer saya masih rusak dan koneksi internet masih payah.

C.U
Saya kembali berperang dulu.

Selasa, 14 Juni 2011

Ku Tunggu Kau

Setelah kita melihat semuanya

Setelah kita selesaikan semuanya

Aku tetap padamu, Mata yang Manis

Segala kebencian pudar seiring berjalannya usia

Seakan kau makhluk adam paling suci

Kau patrikan aku pada setiap gerikmu

Menjadikan kau satu-satunya titik dalam lensa buramku

Ku tunggu kau, sendiri, di suatu waktu

Ada Derita di Balik Hikmah

Saya punya teman, ya sebut saja namanya mmmmm Hikmah, karena ia sering membawa Hikmah ke dalam hidup saya O: ) . Ia manusia berjenis langka yang saya tidak tau bagaimana ia bisa bertahan dari gempuran produk China . Hobinya adalah bengong sambil baca novel , tangan kiri memegang buku tangan kanan memelintir-lintir rambut dan ketika saya berpaling ada teriakan,” Ahhh, Ajet gue dapat rambut keriting AAHHHHHH”. Lalu saya bengong, ia menaruh rambutnya di meja dan ia kembali bengong dan membaca buku lagi. Untung aja yang dia cabut bukan buku ketek. Kalau ia saya juga mau dicabutin. Ia juga tak bisa membedakan mana SMS dan mana Chat. Pernah dia SMS saya cuma berisi:

Jet

Hening….. saya pun bingung. Haah, Tuhan, ia telah mengeluarkaan ratusan rupiah untuk hal yang saya gak ngerti maksdunya apa, Hikmah, Hikmah.

Yang paling tak bisa dilupakan dari Hikmah adalah… azab. Dia seperti terkena azab akhir-akhir ini terdapat koreng di antara hidung dan mulutnya yang bernanah. Selama beberapa hari Ia memakai masker yang biasa di pake dokter-dokter di ruang operasi atau dokteri gigi. Lalu ketika saya tanya, kenapa lukanya, Ia jawab terinfeksi. Infeksi apa? Tanya saya lagi. “kayaknya sih gara-gara gue make lipbalm yang kadaluarsa”. Ingin rasanya saya guling-guling sampai lapangan terus salto lagi ngelilingin Taman Bukit Duri. Ya Allah, kenapa teman saya……….. kecantikan berujung nestapa, derita Hikmahku yang lugu.

Do’akan saja Hikmah ingin Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Semoga menjadi kenyataan.

Sabtu, 23 April 2011

Opera Tan Malaka

Hari ini saya dan Semy (Samira T) menonton Opera Tan Malaka. Acara yang paling saya tunggu selama liburan ini. Opera ini terdiri dari 3 babak. Tiada tokoh sentral dalam opera ini, hanya dialog, kur, nyanyian 2 aria, teks dan imaji-imaji lainnya.

***
Saya datang ke Taman Ismail Marzuki pukul 19.00 sesuai dengan perjanjian dengan Semy. Suasana TIM lebih ramai dari biasanya, ternyata ada bus paspampres. Ya, Wakil Presiden, Pak Boediono hadir beserta istri dan beberapa baris parkir di tutup. Jadi agak padat di tempat parkir. Saya makan dulu dengan orang tua. Setelah itu, saya dan Semy masuk ke gedung Graha Bakti Budaya.

Awalnya kami mau kongko-kongko dulu, siapa tau ada artis yang lewat. Eh baru aja mau mojok, ternyata sekuriti bilang kalau lebih baik kami naik ke atas. You wis lah. Sesampai kami di atas, ternyata sudah ramai oleh, ya boleh di kata, orang-orang penting. Orang-orang yang sering masuk TV, tapi entahlah saya gak tau namanya siapa. Cuma beberapa orang yang saya tau namanya Adnan Buyung Nasution, Djay Subiakto dan Butet Kertaradjasa.

Setelah wapres masuk dan MC menyilakan untuk audiens berdiri, Opera pun dimulai. Beeehh, Lightingnya bagus banget. Awalnya agak merinding gimana gitu. Trus lama-lama kok ada nyanyian yang gak kedengeran liriknya ya? Ternyata teks tersebut ada di booklet (naksah) yang dikasih panitia. Nyesel banget gak baca dulu. Akhirnya tiap nyanyian dari kur dan aria, agak sedikit-sedikit nangkepnya. Tadinya, naitnya mau baca pas pertunjukan. Eh, taunya gelap banget, gak ada cahaya sama sekali, keculi ya dari panggung.

***
Menurut saya, opera ini sangat bagus. Saya memang tidak sepenuhnya paham dengan isi Opera ini, ya mengambang sedikit lah, banyak malah. Tapi seperti kata Semy, pertunjukan seperti ini tuh bukan hanya jalan dan inti cerita saja yang diperhitungkan, tapi setting, lighting, suasana, performance, lakon, crowd, pemain dan sebagainya juga ambil peran. Jadi, walaupun tidak terlalu mengerti, tapi pertunjukan seperti ini membuat kami berdecak kagum dan 100 ribu terbayar sudah.

***
Sebenarnya, menurut saya, inti dari Opera ini adalah "Ada atau tidak adanya Tan Malaka?". Tokoh Revolusi ini seperti tiba-tiba ada, tiba-tiba menghilang. Jadi, menurut saya sekali lagi, tidak ada penanaman atau penyebaran bibit2 komunis. Ya, jika ada oknum yang berkata demikian, paling dia cuma melihat nama Tan Malaka-nya saja. Menurut saya sekali lagi, ini hanya tentang seni sejarah, bukan yang lain.

***

Saya sangat susah menangkap nyanyian dari aria dan kur, padahal hampir setengahnya barangkali, berisi nyanyian semua, ya namanya juga opera. Lalu, yang paling saya sukai adalah esai tentang Tan Malaka. Ini dia :
Ia lahir dari buku, hidup dari pustaka, dan menghilang di halaman terakhir sebuah risalah Tapi bisakah Revolusi lahir dari kitab yang sudah ada?
----
. . . Mungkin itu sebabnya di tiap Taman Pahlawan ada tempat istimewa untuk "prajurit tak dikenal". Kita menghormatinya, tapi sebenarnya tak penting siapa di sana yang dikuburkan. Mungkin liang lahad itu kosong.

Tapi ia lebih baik kosong. Tiap kali akan bisa menghiasinya dengan fantasi. Tafsir kita.

Itu sebabnya Tan Malaka, akan selamanya absen- palsu atau tak palsu, mati atau hidup, Ia tak akan pernah hadir. Dan itu penting sekali.

***
Revolusi adalah peristiwa riuh.
Revolusi adalah peristiwa sunyi.

Revolusi melahirkan aku.
Revolusi melenyapkan aku.

***

-(ki-ka) Naksah Tan Malaka, Booklet Tan Malaka Opera 3 babak, dan Tiket nya

Rabu, 20 April 2011

Called It Holiday Baby

For this holiday, I didn't do journey or something. I'm just sleeping all day, having lunch, watching 8-11 show, reading a novel till cry ,and. . . . . . . . . . . . . . . . . .

GETTING CRAZY WITH THIS LINK :

http://fuckyeahmahasiswa.tumblr.com

(just click it)

FUCK YEAH!


Jumat, 15 April 2011

Doa

Beberapa teman saya dari PUA 37 akan mendaki Gunung Ceremai hari ini, saya doakan agar mereka semua selamat sampai puncak dan kembali ke Jakarta. Terkadang kalau teman akan naik gunung, yang menunggu kabar dari gunungnya itu deg-degan banget. Apalagi kalo harusnya udah waktunya sampai Jakarta tapi belum ada kabar. Sedangkan kalo naik, mau ada badai apapun tetep aja tenang, percaya sama Allah. Gak gitu juga sih. Tapi intinya, kalau naik itu gak sedeg-degan yang nunggu kabar dari yang naik, deh. Sebenernya saya juga ingin ke Ceremai, namun karena nilai saya turun saya tidak mau naik gunung dulu.


Oh, iya teman-teman dari PUA 36 juga akan menempuh Ujian Nasional, saya doakan juga agak mereka semua lulus Ujian Nasional dengan nilai yang terbaik dan membanggakan dan dapat universitas yang diinginkan. Bukan cuma untuk Pua 36 aja deng. Doa ini buat kakak-kakak 8 2011 semuanya, terutama kakak-kakak IPS 2011 dan Pua 36. Sukses semua ya!!!!! Doakan kami (2012) juga tahun depan hehehehe.


Satu lagi, kami 8 2012 akan membuat proker lintas bidang terbesar tahun ini yaitu 8 Schoolastic, untuk detailnya masih rahasia heheheh (sok rahasia). Pokoknya, saya berdoa agar acara ini berjalan lancar baik pra-pelaksanaan, pelaksanaan hinga paska-pelaksanaan dan selaras dengan tujuan mulia acara ini dan mendapat profit! hehehehe.


Terkahir, saya berdoa agar nilai saya naik semua (semester 2 ini nilai saya turun) hingga saya bisa mendapat SNMPTN Undangan tahun depan hingga saya bisa menjadi salah satu mahasiswa SBM ITB dan jika nilai saya naik, saya akan taklukan Gn. Semeru!


Amin

Kepercayaan

Pernah tidak merasa menjadi benar-benar musafir? tanpa arah dan tujuan? Ya, itulah yang saya lakukan hari ini.


Semua berawal dari keinginan saya untuk belanja di Gramedia Matraman dan melanjutkan ke Ragusa hingga saya nanti bimbel di BTA. Sebelumnya saya sudah ada janji dengan teman saya, mmm sebut saja Y. Kami sepakat untuk makan es krim di Ragusa bersama G dan A. Namun, pada pagi hari tadi perjanjian itu batal. Karena A sakit, G katanya lagi stress dan Y bersama orang tuanya. Karena saya merasa canggung dan Y menawarkan untuk minggu depan. Ya, saya iyakan.


Setelah itu saya sms H untuk bermain ke rumahnya, kebetulan rumahnya di Tebet. H mengiyakan. Namun, beberapa jam kemudian H tidak bisa dihubungi dan akhirnya saya mencari rumah H (karena saya belum pernah ke rumahnya) dengan instruksi dari teman. Ketika sudah dekat, saya naik ojek dan mencari rumahnya. Namun tidak ketemu. H masih tidak bisa dihubungi. Akhirnya saya mencari masjid untuk solat dengan berjalan kaki dan mencari makan di deket tebet. Lalu saya mencari warnet, ya tempat saya menulis postingan ini adalah warnet Login.net, tebet. kenapa warnet? Ya karena cuma di warnet, tempat singgah yang paling murah. Bisa berjam-jam dengan harga perjamnya 3.000 rupiah.

***


Beberapa hari sebelumnya saya juga merasakan hal seperti ini menunggu kepastian dari orang yang membuat perjanjian dengan saya. Bahkan saya menuggu sampai 4 jam. Saya percaya bahwa dia akan menepatinya. Tapi tidak juga ditepati. Awalnya saya kesal, namun lama-lama sudah biasa saja. Karena saya percaya bahwa ini karakter orang jaman sekarang, susah untuk menepati suatu janji. Selalu ngaret dan sebagainya. Saya juga dulu suka ngaret dan tidak tepat janji. Tapi setelah saya hitung-hitung, kerugian saya jika saya mengingkari janji saya lebih besar dari keuntungan yang saya dapat jika saya menepati janjinya. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha menepati janji yang saya buat mulai beberapa minggu yang lalu.


Karena saya yakin,

Kepercayaan bukan tiba-tiba turun dari langit, tapi dibangun dengan usaha. Dan ketika kita merusaknya, susah untuk dibangun kembali.


***


Oleh sebab itu, setelah mengalami kejadian-kejadian yang menguji kesabaran saya, saya tidak mudah percaya dengan orang lain seperti dulu.

Selasa, 22 Maret 2011

2face

Lele Crackers

,
Seperti biasa saya suka aneh-aneh kalau melihat makanan sisa di meja makan. Saya disuruh menghabiskan satu porsi ikan Lele sehabis makan malam, karena itu inggal satu-satunya Lele, sayang kalau tidak dimakan. Ya adanya saya belenger. Akhirnya saya kreasikan, Crackers diberi toping berupa mayonais dengan potongan ikan lele dan sambal goreng (minyak, bawang merah, cabe keriting, dan tomat). Rasanya? Alhamdulillah, enak dan gak bikin keracunan.

Jepang Tangguh

Salut.

Inilah kata yang paling tepat menggambarkan perasaan saya kepada bangsa Jepang. Saya menyukai budaya bangsa ini, bukan kulinernya atau tariannya atau baju-bajunya atau budaya kultural lainnya. Tapi budaya nasionalis dan ketekunannya yang telah mendarah daging.

Sebelum liburan selama kelas XII menjalani UAS saya belajar mengenai penjajahan Jepang di Indonesia. Hal yang menyebabkan Jepang dapat bersaing dengan negara-negara barat adalah Restorasi Meiji pada tahun 1854. Sebelum tahun ini, Jepang dalam keadaan tertutup bagi dunia luar. Sehingga sangat terpuruk. Lalu dalam waktu kurang dari 100 tahun mereka sudah dapat ikut serta dalam Perang Dunia Kedua. Sedangkan Amerika Serikat saja sudah berumur 153 tahun (1789-1942). Jepang adalah negara pertama yang membuktikan bahwa bangsa kulit berwarna dapat mengalahkan kulit putih dengan mengalahkan Rusia, (saya lupa tahunnya).

Walaupun dalam sekejap Jepang runtuh dalam bom atom yang meluluhlantahkan negeri tersebut. Jepang mampu bangkit dalam kurun waktu kurang dari 70 tahun untuk menyetarakan derajat dengan bangsa barat, sehingga perekonomian jepang sangat diperhitungkan dunia.

***

Beberapa hari yang lalu, Jepang kembali jatuh, kembali diuji, dengan Tsunami dan bocornya reaktor nuklir. Bukan Jepang namanya kalau tidak sigap dan cepat bangkit. Saya menonton berita kemarin, Bangsa Jepang tetap melakukan budayanya seperti biasa tekun, tenang, dan nasionalis. Walaupun perekonomian Jepang jatuh yang berdampak pada perekonomian dunia tetap saja Pemerintah Jepang lebih mengutamakan evakuasi warganya, tempat penampungannya pun terlihat nyaman. Disamping itu para sukarelawaan pun tetap tekun mencari korban-korban yang tertimbun dan dengan rasa tanang para korban yang selamat tetap antre ketika dievakuasi. Saya yakin dengan Jepang, sebentar lagi mereka akan bangkit.

***

Saya diberitahu oleh guru-guru saya baik ketika saya SD maupun SMA (pelajaran sejarah selalu diulang). Jepang dapat menyesuaikan derajat dengan bangsa barat setelah Restorasi Meiji karena Jepang mengutamakan bidang pendidikan, industri dan militer. Industri dan militer hanya meniru bangsa bangsa barat. Kebijakan dalam pendidikanlah yang unik menurut saya. Mereka tidak mengusahakan bangsanya untuk belajar bahasa ingris atau bahasa barat lainnya. Mereka hanya menerjemahkan buku-buku bangsa barat, sehingga mereka dapat belajar tanpa harus susah-susah memepelajari bahasa baru. Oleh karena itu, kita sekarang tahu mengapa bangsa Jepang jarang yang bisa berbahasa Inggris. Karena bukan tradisi mereka memepelajari bahasa asing. Mereka sangat nasionalis, sehingga karena bangsa mereka terlalu hebat namun kurang bisa berbahasa Inggris, kita justru harus mempelajari bahasa mereka agar dapat bisa bekerjasama.

Lalu, bagaimana dengan setelah bom atom? Ya, Orang-orang yang dicari kaisar pertama kali adalah guru-guru yang selamat. Apa gunanya? Agar kelak anak-anak yang selamat dapat belajar dan dapat berkembang lagi ke arah yang lebih baik.

***

Menurut saya kebijakan-kebijakan jepang sangat tidak populer, tapi berdampak positif. Bandingkan dengan Indonesia, jika terkena musibah yang pertama kali diingat adalah bagaimana dengan pendapatan dari devisa? Apakah turis mancanegara akan tetap berkunjung? seharusnya kita belajar dari Pemerintah dan Bangsa Jepang, jangan meributkan untung dan rugi, tapi selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya dan kemajuan bangsa. Jangka jauh dalam berfikir tidak yang singkat-singkat.

***

Lalu kapan Indonesia bisa begitu? Ubah dulu budaya malas, budaya mudah menyerah dan ubahlah cita-citanya, Jangan "Nanti gue mau kuliah di luar negeri trus kerja disana, di New York!" , Ubahlah menjadi "Gue ingin menciptakan kota-kota besar kayak New York, Paris buatan gue Indonesia!".

Juwita

Ini adalah Juwita. Salah satu anak penghuni panti asuhan di daerah Galaxy, Bekasi. Kelas 2 SD seharusnya kelas 4 SD. Entah kenapa ia tak pernah tersenyum dan hanya berbicara singkat kepada saya. Saya dan Dhimas PB langsung tertarik ketika pertama kali melihatnya.
Bagaimana dengan anda?

(foto diambil ketika baksos di panti asuhan di daerah Galaxy, Bekasi)

Senin, 21 Maret 2011

Sia - You've Changed

I found this video when I went to Jakarta from Pekalongan by train. First, I didn't notice this video. Because the previous videos are tacky, so I was surprise when I see it. I like the emoticons at end. This video kinda 80's or something but cool. Be yourself is the message of this video I thought. Enjoy :

Minggu, 20 Maret 2011

Aku Ingin kayak Jendral Kancil!

Ini adalah sinetron mingguan kesukaan saya ketika saya sekolah dasar dulu. Ya Ratu malu & Jendral Kancil, saya menemukan video ini di Youtube, jadi sedikit nostalgia :






Nikita Willy, pemain utama wanitanya, masih lucu imut. Pingin saya gendong. Eh sekarang udah kayak tante saya sendiri, padahal juga seumuran.

Dahulu inilah gambaran saya ketika Sekolah Dasar. Kalau dilihat dari postingan saya sebelumnya, saya membayangkan SMA seperti AADC, kalau SD seperti Jendral Kancil dan Petualngan Sherina. Pokoknya kehidupan SD saya harus seperti film dan sinetron itu, pikir saya dulu.

Saya kangen sinetron anak-anak. Sekarang hanya sinetron orang dewasa yang tak habis-habis, dan diulang-ulang, kalo tidak masuk rumah sakit, dipenjara, nikah, nikah lagi, nikah terlarang, nikah dengan saudara sekandung, dituker, diculik dan sebagainya. Tidak ada lagi sinetron yang membuat saya mengandai bagaimana kehidupan suatu lembaga pendidikan. Ya. Anak jaman sekarang tak kan bisa membayangkan bagaimana rasanya punya genk, atau diary yang ditulis bareng-bareng, atau memakai atribut genk yang sewarna atau main dirumah temen ngomongin hal-hal orang dewasa, atau naik sepeda keliling kompleks, atau hanya membicarakan sinetron Jendral Kancil kemaren malamnya.

Ya saya kangen terkadang, ingin sesorang bernyanyi Aku Ingin Kayak Jendral Kancil!

Jadi, tidak akan berlebihan jika beberapa tahun lagi kita melihat anak SD sudah ke dokter muka untuk meniru muka kenyalnya Nikita Willy hahaha. Bukannya Aku Ingin kayak Jendral Kancil, malah Aku Ingin kayak Nikita Willy hahahaah. (peace out)

Minggu, 13 Maret 2011

Nilai dan Pengikut

Sedikit Intermezo bahwa mata saya bertambah minus-nya karena kebanyakan menangis.

***

Entah kenapa saya menyadari bahwa, Indonesia itu negeri nilai. Semua diukur oleh nilai. Baik nilai dalam angka maupun nilai sosial. Nilai yang sangat kaku. Nilai sosial? Dalam pelajaran Sosiologi ada yang nilai sosial, artinya : Nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat (sumber : Wikipedia).

Mengapa saya berkata bahwa Indonesia adalah negeri nilai?

Karena setiap tindakan yang dilakukan kebanyakan orang Indonesia selalu diperhitungkan. Pantas atau tidak? Benar atau tidak? Populer atau tidak? Untung atau tidak? Mendapatkan nilai tinggi atau tidak? Hal tersebut membuat kita terlalu takut untuk berhadapan dengan kalah dan risiko. Dan kita terbiasa untuk berpikit singkat tanpa memikirkan dampak dari "nilai-nilai" tersebut.

Misalnya:

Poin 1. Seorang yang bertanya pada gurunya, apakah tugas yang ia kerjakan mendapat nilai? Lalu masuk ke rapot, lalu masuk ke Ijazah, lalu bisa meluluskan anak ini suatu saat?

Poin 2. Seorang yang mengendari fixie karena teman-temannya memakainya. Kenapa ia tidak memakai sepeda kumbang, yang menurut saya lebih nyaman?

Poin 3. Seorang yang menjadi vegetarian karena si artis A juga vegetarian.

Point 4. Sebuah Orde yang menjadikan Indonesia swasembada pangan, namun berpuluh tahun kemudian menjadikan negara ini krisis pangan?

Poin 5. Para bangsawan awal penjajahan Indonesia mau bekerjasama dengan Belanda karena Belanda dianggap hebat dan bisa membantu mereka mendapat kekuasaan dari kerajaan lain di Indonesia.

Nilai-nilai ini membuat Indonesia melahirkan budaya baru (egois, poin 1,4, dan 5) dan memperkuat budaya lama (pengikut poin 2 dan 3).

Ya. Poin 4 saya baru membacanya hari ini di koran Kompas hal 23. Mengapa Indonesia krisis pangan? karena orang Indonesia terlalu bergantung pada nasi. Pada masa swasembada pangan, semua makanan berkarbohidrat diganti dengan nasi. Nasi, nasi dan nasi. Hingga sampai sekarang semua orang makannya nasi. Penduduk bertambah dan konsumsi pun meningkat. Sehingga terjadilah krisis pangan. Pada zaman itu "mungkin" sangatlah hebat jika melakukan swasembada pangan. Dianggap keren. Apalagi jika diawal pemerintahan Orde Baru yang baru saja diganti. Tapi dampaknya? Disinilah nilai sosial mengambil peran.

***

Bangsa ini seperti kehilangan jati diri, melihat yang pantas dan populer selalu diikuti, agar dapat dianggap oleh seluruh elemen dunia. Padahal jika kita bisa berpikir out of the box dan menjadi trendsetter, bukan kah kita yang di perhatian dan akhirnya dijadikan acuan? Berani berbeda, berfikir untuk kepentingan semua, dan untuk kebaikan dari hati nurani, itu kuncinya.

***

Pak Priyo, guru Sosiologi saya : Nilai itu penting, agar manusia selalu berusaha untuk mencapai nilai-nilai yang berada di masyarakat.

Saya setuju, cuma ya zaman berubah, masa acuan nilainya gak berubah?

Jumat, 11 Maret 2011

Is it late?

Ok, I make confession that I like Radiohead. It is because I listened of traxfm and they played Lotus Flower and said that the video was brilliant. YESS!!! I'm totally agree! I like the singer, yup, his eyes doesn't perfect. But, his imperfect make me so interest to him.


This is the video :








Rabu, 02 Maret 2011

Zona Aman bin Nyaman

Beberapa hari ini kelas saya sering nonton film, Daun di Atas Bantal, Perempuan Punya Cerita, Takut, 127 Hours, Paranormal Activity dan sebagainya. Namun, yang menarik perhatian saya adalah Daun di Atas Bantal dan Perempuan Punya Cerita.

Mengapa menarik?

Karena di kedua film tersebut terdapat cerita yang sangat jujur dan mengenalkan dunia yang sama sekali berbeda dengan saya. Pada film Daun di Atas Bantal menceritakan bagaimana seorang wanita membesarkan tiga anak jalanan yang liar. Ya, ada beberapa adegan dalam film itu yang belum pernah liat secara langsung seperti menghirup lem aika aibon, septitank (saya tidak tahu ejaannya), pembunuhan dan sebagainya. Sedangkan di Perempuan Punya Cerita saya belum pernah mendengar cerita wanita yang hamil akibat "digilir" oleh teman-teman prianya atau wanita yang kehilangan anaknya akibat dibawa pergi oleh kerabatnya demi popularitas di Jakarta, akhirnya anaknya dinikahkan dengan saudagar kaya.

***
Beberapa hari ini juga saya melihat berita di media tentang pergolakan revolusi di Mesir atau Libya dan negara Timur Tengah. Saya juga masih mendengar

***

Ya. Berbeda sekali dengan dunia yang saya alami. Bangun, mandi, sekolah, pulang, bermain. Bangun lagi dan melakukan hal yang sama lagi. Seharusnya saya bersyukur, ya saya bersyukur. Tapi terdapat rasa yang tidak pas dalam diri saya. Analoginya :

Saya seperti berada dalam suatu ruangan pesta tertutup yang memiliki sedikit ventilasi. Ketika saya mengintip ke jendela karena saya jenuh, saya melihat pemandangan yang sangat berbeda dengan yang saya alami. Kekacauan dimana-mana, tindakan asusila, kerusuhan, dan sebagainya. Suatu saat saya akan keluar juga untuk pulang, siap tidak siap.

***

Perasaan yang saya alami sekarang seperti Frodo Bagins dalam The Lord Of The Rings atau Kaum Viking di Norwegia: merasakan tempat yang aman hanya tempat kita berpijak, selebihnya adalah daerah kelabu. Lalu, adakah kita kembali bersama mereka adakah nurani untuk menolong mereka. Kita terbuai oleh segala bentuk konsumerisme, sehingga kita selalu berada dalam posisi aman dan nyaman. Sehingga jika stabilitas kita terusik, jangan salahkan jika membalasnya.

Suatu hari nanti saya akan turun ke jalan robohkan setan yang berdiri mengangkang (-Iwan fals). Saya akan keluar dari zona aman bin nyaman untuk melihat dunia nyata dan menjadikan mereka tinggal bersama kami di zona aman.

Yes! I Want It!

I just shuffle my iPod. I find this song : Grow Old With You by Adam Sandler. This is the video :




Actually, I got jealous with Drew Barrymore, when Adam Sandler sang this song for her. Yeah, what a sweet song. This song was a soundtrack from Wedding Singer movie. I haven't watched the movie yet. Because my cd got broken. So, I just can enjoy the soundtrack in Youtube like Forgetful Lucy or Somebody Kill Me Please.

Someday, when I grow up and will get merry with someone else, I wish he will sing this song on my wedding party or on when he make statement that he want to marry me.

Just hopping :)

Minggu, 27 Februari 2011

Happy (Balated) Birthday!!!!



Pasti lo kesel kan nungguin ucapan dari gue? Mehihihihihi gue tau gue ditunggu banget ucapannya. Kemaren malem pas lo ol msn tadinya mau gue kirimin gambar ini. Tapi berhubung ya berhubung scanner gue rusaaaakkkkk, jadilah gue manual pake kamera hp. Tulisan yang pake pulpen keliatan gak? Mudah-mudahan deh.

Happy Birthday Angginta Ramdhani Ibrahim!!!!!!!! Semoga lo bersedia meneraktir gue dari hasil penghematan lo bertahun-tahun. Semoga makin solehah, unyu, dan makin bersahaja. Dan makin mirip strawberry short cake yua!!!! Keep rockin' all the time


P.S : Kita hatus jalan-jalan lg!!! tapi lo yg teraktir!!!!

Selasa, 22 Februari 2011

High School Supposed To Be

Today, at sociology's class, we watched Daun di Atas Bantal by cd player. But at the beginning, there were a commercial about Ada Apa Dengan Cinta's movie.


At the time, I remember how the movie was. This movie was in cinema when I was in 2nd grade of elementary school (If I didn't wrong). So, I didn't watch at that time but a few years after it launched. I think this movie's story didn't have uniqueness, but It was fresh story in that era which had good actors and actress, a good soundtrack and scoring, and a good movie after all. :D

This movie made some views of high school's life for me. So, when the first time I watched this, I really want to go to high school as soon as possible to meet some adorable life, friends and some cool boys.

But, the fact is my high school's life now didn't like in that movie, very bored, I'm bored with tired (Bosan aku dengan penat -one poems by Rangga in AADC).

So, this night, I made a list what my expectation about high school's life when I was in elementary school :

Have beautiful face like Cinta


Have best friends, dance with them and have rules of friendships.

















Have boyfriends at least a friend like Rangga : handsome, cool, introvert, smart and romantic (in made poems). By the way, the actor of Rangga : Nicholas Saputra is an alumni of my high school. So, I'm just wondering what if I was his schoolmate. I wonder I have 'extra' spirit to go to school.

Have a relationship with someone like Rangga. . . .

And the last is. . . .
Have happy ending story of high school's life (not the kissing of course). At the movie, they (Cinta and Rangga) finally made a statement that they loved each other.

***

Yeah,
These all were not my high school life. How about mine? Its more harder, more boring, but still memorable. These all just were someone's idea of movie's story. Haah, I'm still wondering and hoping if my expectation become true, in this year.

(Photos source: voltscommissar at Youtube)

Minggu, 20 Februari 2011

Hiruk Pikuk Udara

Alunan lagu telah dimulai
Tak terasa waktu kian malam, kian mendekati tengah malam
Siapun yang datang, tak kan sadar ada yang berubah.

Tangan-tangan itu selalu meraih udara,
Menggelitikan O2 yang dihirup,
Mengusap CO2 yang dihempas
Menggoda Nitrogen yang nakal.

Alunan lagu telah dimulai.
Tak terasa semua semakin sepi, ia pun sendiri.
Mengingat semua yang telah terjadi
Menyesali apa yang terlewat

Tangan-tangan itu selalu meraih udara
Menggapai udara yang enggan masuk ke alveolus
Mencari gas yang menjadi dingin

Alun lagu telah dimulai
Tak terasa semua pergi, tak ada yang tersisa
Tapi. . . . .
Hatinya damai
Ia berjanji ini adalah awal bukan akhir
Tapi janji ia ingkari
Janji ya janji

Tangan-tangan itu selalu meraih udara
Meberikan jari tengah ke udara yang tak mau berkompromi
Mencoba melupakan udara yang menghianati

A
ku pergi ke suatu keadaan dimana aku jauh dari hiruk pikuk media, menjadi terasing dan sendiri. Gelisah dalam hati, Jenuh dalam pikir. Hanya di sepi ku bisa berdamai.


Karya:
Antara Pertama dan Terakhir

Juru "Tawar"

Hari ini saya, Raissa N (Chia) dan Nadia P (Nape) berbelanja buku di Pasar Senen. Yak, kebiasaan saya muncul katika hari minggu pagi, kesiangan. Chia sms ke saya kemarin malam, kalau sebelum berangkat kumpul terlebih dahulu di sekolah jam 09.00 WIB dan ternyata saya bangun pukul 09.00 WIB.

. . . . . . . . . . .

Saya capek telat mulu.

Saya sampai di sekolah pkl. 10.00 WIB lalu kami berangkat ke terminal Kebon Pala lalu naik Transjakarta ke Pasar Senen. Sebenarnya saya tidak memiliki tujuan khusus untuk membeli buku. Chia yang punya. Ia ingin membeli buku karangan Enid Blyton, pengarang novel anak-remaja.

Awalnya saya tidak tertarik untuk membeli buku, "Hanya liat-liat saja", pikir saya. Tapi saya baru ingat, kemarin saya tidak menemukan Tan Malaka (Seri buku TEMPO : Bapak Bangsa) di Gramedia Matraman. Akhirnya, nafsu untuk menabung pun kalah dari nafsu membaca. Saya tanya ibu penjual setempat ada tidak buku tersebut, kebetulan saya membawa yang edisi Hatta-nya. Ibu penjual bilang, "Wah, dek yang begini gak ada, adanya yang warna merah, mau?" Saya mengiyakan. Tak apa asal ada Tan Malakanya, jujur saya penasaran. Akhirnya saya membeli buku AKU, karangan Sjuman Djaya, Negara 5 Menara karya M.Fuad, dan Massa Aksi karya Tan Malaka dan total pembayaran : Rp.50.000,-

Saya sempat berpisah dengan Nape dan Chia karena saya mencari buku tersebut. Lalu, kami bertemu kembali dan mencari buku Enid Blyton. Setelah dicari-cari akhirnya ketemu juga, tapi yang versi Bahasa Inggris, tebal, dan hardcover. Chia beli dua (Dua-duanya dengan pengarang Enid Blyton) dan saya beli dua (satu karya Enid Blyton satu lagi karya Carolyn Keene).

Awalnya, saya bilang ini semua bisa sampai Rp.100.000 karena ini termasuk susah dicari. Chia bilang kemahalan, ia bilang satunya Rp.10.000,-. Ternyata kesepakatan harga dengan pak penjual sampai Rp.60.000. Ya, (menurut saya) sangat murah.

Lalu, kami terus mencari buku Enid Blyton lainnya. Sambil mencari, Nape membeli buku interior design yang total harganya sekitar Rp.95.000an, Ia beli dua kalau tidak salah. Kami keliling-keliling dilantai tersebut. Akhirnya kami balik lagi ke toko tempat saya dan Chia membeli buku, ternyata buku yang diinginkan Chia ketemu, tapi . . . . . bapak penjualnya harus membongkar tumpukan buku-bukunya. Harga yang ditawarkan bapaknya adalah Rp.70.000,-. Karena ia harus membongkar tumpukan buku tersebut. Chia menawar, dan akhirnya harga kesapakatan : Rp.40.000,-

Ketika kami makan nasi Kapau, kami menghitung-hitung pengeluaran kami ketika membeli buku,

Nape
4 buku, total pengeluaran : Rp.100.000an
Saya
5 buku, total pengeluaran : Rp.80.000
Chia
6 buku, total pengeluaran : Rp.70.000

Ya, saya nobatkan Chia sebagai Juru Tawar-Menawar, hari ini.

Buku-buku yang saya beli di Pasar Senen hari ini.

***

Tapi saya masih belum puas dan penasaran, dimana buku Tan Malaka yang saya inginkan, karena di Gramedia Matraman dan Pasar Senen saja tidak ada. Mungkin lain kali saya beli. Saya juga ingin membeli Edisi Soekarno nya. Dua dari empat Seri Buku TEMPO : Bapak Bangsa


Mmmm, Lalu kapan saya menabung? Kapan-kapan deh.

Kamis, 17 Februari 2011

Antara Manajemen dan Politik

Pada hari Jum'at 11 Februari 2011, saya bersama Gifari RA, Saviq R, dan Ahmad S sedang berbincang ketika kami nebeng Ahmad S. Hari itu berbeda dengan biasanya, kami tidak lagi berbalasan lelucon. Kami membicarakan manajemen dan strategi....... Ya it could really happened to us.

Saviq R sedang membuka bisnis baru yang bergerak di bidang tekstil (Kalo dilihat baik-baik, ia seperti warga Arab yang sedang menjual kain di Pasar Baru). Tidak, ia bukan produsen, melainkan hanya distributor. Lalu kami berbinacang lagi, bagaimana bisnisnya, manajemennya, keuntungan, strategi, trik dan sebagainya. Saviq R pun menjawab dengan gayanya yang pasti. Nama-nama seperti Mario Teguh, John C Maxwell dan Richard Branson keluar dari mulut kami. Ya, kami serasa eksekutif kelas teri.

Kami semua yang berada dalam percakapan itu ingin sekali membuka bisnis jika dewasa nanti. Meraup keuntungan dengan teori-teori sok tahu kami. Namun, hal ini membuat saya tertegun. Ketiga teman saya adalah siswa dari kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sedangkan saya murid dari kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tapi malah mereka yang aktif berbicara adalah mereka bertiga. Buku-buku yang mereka baca juga sangat amat berbobot untuk ukuran anak SMA, seperti Bagaimana menjadi pemimpin yang berpengaruh (saya lupa judul pastinya yang jelas di cover bukunya ada kalimat ini), buku-buku karangan John C Maxwell tentang strategi dan Manejemen.

***

Saya yang notabane nya adalah anak IPS dan ingin menjadi mahasiswa FEUI jurusan Bisnis dan Manajemen, sangat tidak tertarik untuk membaca buku itu. Saya lebih tertarik untuk membaca biografi orang berpengaruh atau tentang politik. Semenjak saya kecil saya senang membaca biografi para tokoh perpengaruh dunia dengan media kartun dan saya telah membaca buku Catatan Seorang Demonstran (Gie), dan Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil (Seri Buku TEMPO : Bapak Bangsa). Lalu bukan berarti saya senang dengan dunia politik dan berniat menjadi bagiannya. Bukan-bukan. Istilahnya politik itu dramanya kehidupan penuh skandal dan ekspetasi yang tidak selamanya tepat. Jadi saya tertarik.
***

Kembali ke masalah awal. Mengapa saya ingin sekali masuk FEUI sedangkan minat saya adalah politik? Ketika saya membaca biografi pemimpin, saya sekaligus membaca cara berpikir mereka dan keadaan ketika mereka hidup. Para tokoh itu berani memperjuangkan ketidakadilan dalam bidangnya, Albert Schweitzer dalam pengorbanannya merawat rakyat Gabon dan meraih nobel perdamaian, Mahatma Gandhi dalam perjuangan rakyat India, Galileo Galilei dalam membela Copernicus dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang dibutuhkan si zaman dan bidangnya.

***

Lalu apa kolerasinya? Baik, apa yang sangat membuat masyarakat dari dulu sampai sekarang selalu terjadi ketidakadilan? ya, miskin jawabannya. Miskin harta, ilmu, moral dan sebagainya. Cita-cita saya adalah pengusaha mempunyai banyak uang dan akhirnya saya dapat mempunyai yayasan yang menangani ini semua. Ya itu harapan paling muluk dari saya. Jadi, karena minat saya yang berlebih pada bidang politik dan sejarah lewat para tokoh, saya sangat ingin menjadi kaya agar bisa menjadikan orang lain "kaya" seperti saya.

***

Pedati, tujuan kami, pun terlihat. Saya menambahkan cerita, "Jangan-jangan nanti lo semua kayak film 3 Idiots lagi. Hahaha. Jadi orang sukses semua ya". "Iya-iya gue jadi yang ngilangnya, Gifari jadi yang ayahnya sakit trus naik motor. Hahahah". Kalau begitu Ahmad yang menjadi fotografernya dan saya mungkin penonton dalam skenario hidup mereka. Malaikat dan Tuhan mencatat do'a kami.

Senin, 14 Februari 2011

Hilang

Minggu, 9 Januari 2011
Saya membuat posting yang berjudul Zero Point (silakan diklik untuk melihat). Mengenai perasaan kehilangan sesuatu yang saya tak tahu itu apa.

Senin, 07 Februari 2011
Saya membuat posting tentang sebuah pecinta alam SMA yang teristimewa dan terhebat bagi saya. Banyak pelajaran dari sini saya terima.

Jumat, 11 Feburari 2011
Saya baru saja ikut rapat Routine Evaluation Meeting membahas pradiklat, acara yang saya ketuai. Saya tidak punya "rasa" hari itu. Semua begitu sepi. Bahkan semua teman tak bisa membuat saya tertawa lepas. Begitu sunyi, sepi, ling-lung, dan gelisah. Ketika berbicara kepada teman saya malah ingin menangis tiba-tiba.

Sabtu, 12 Februari 2011
Saya kehilangan............................ (Saya belum siap untuk berbicara apa-apa)

Minggu, 13 Februari 2011
Saya sedikit trauma dengan segala bentuk jejaring sosial. Hari ini saya sadar betapa kuatnya ikatan antara pecinta alam. Cuma disini saya bisa tertawa lepas, membagi beban, dan bercerita hingga waktu tak terasa. Karena kami selalu mengahadapi masalah bersama.

Senin, 14 Februari 2011
Saya sedikit trauma dengan sekolah. Tak tahu kenapa. Saya menghapus akun twitter saya. Saya harap Allah SWT memberikan kekuatan dalam menghadapi segala ujian ini. Saya juga ingin sekali meminta maaf kepada orang-orang yang merasa dirugikan dan kalimat TOGETHER, BETTER, STRONGER!!!!!!! (slogan LKS angkatan saya) selalu terngiang dikepala saya. Ya, walaupun saya bukan bagian dari LKS, tapi slogan tersebut menggambarkan keadaan angkatan 8 2012.

Senin, 07 Februari 2011

XXXVII


"Kami adalah 14 orang yang dibesarkan oleh pengalaman, diterpa segala kesulitan, dan kami disatukan oleh tujuan. Kami adalah yang terbaik, orang-orang yang tumbuh di alam terbuka dan terlelap di tanah. Kami (kel) Puapala XXXVII"


Inspirasi :
Kami dibesarkan oleh pengalaman, diterpa segala kesulitan, dan kami disatukan oleh.....TUJUAN. -GreenRanger

Now I see the secret of the making of the best persons. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth. - Walt whitman (Song of the open road)

Photo Source : Dhea RS

Beliving

"There are three chapter in one period. The founder, the greatest and the the crusher. But I believe, we're the founder of the greatest. 8'2012!!!!"

Kamis, 03 Februari 2011

Apa Jadinya Nanti?

Pertanyaan ini yang selalu teringat di pikiran saya

"Apa jadinya nanti?"

Sewaktu saya kecil saya selalu mengandai bagaimana rasanya ketika saya SMA nanti? kesepiankah? punya teman tidak? Masuk sekolah unggulan gak ya? Ataukah saya pulang ke rumah pukul 14.00 lalu saya hanya menonton program Ceriwis dan mendengar suara angin karena saya saking kesepian?

Semenjak saya SD saya ingin sekali masuk SMA Negeri 8 Jakarta. Bukan karena kakak saya adalah alumni SMA ini. Tapi karena kakak saya mengikuti les BTA yang ada di sekolah ini. Hampir setiap sabtu sore atau minggu pagi, saya mengantar kedua kakak saya les di sekolah ini. Waktu itu sekolah ini belum sebagus sekarang. Belum sebagus yang ada di video clip Kisah Kasih di Sekoah- G4UL. Namun, saya rasa suatu saat saya harus dapat bersekolah disini dan menjawab semua rahasia hasrat saya untuk sekolah disini.

Semua pertanyaan terjawab sudah. Alhamdulillah, saya menjadi bagian dari sekolah ini, saya punya banyak teman. Ya, walaupun sering juga merasa kesepian dan saya rasa saya tahu mengapa saya ingin sekali menjadi bagian dari sekolah ini dahulu.

***

Sekarang saya mulai mengandai lagi. Apa jadinya saya ketika kuliah dan kerja? Apakah masih mempunyai teman? Apakah nilai-nilai saya meningkat? Apakah saya termasuk orang-orang sukses? Apakah saya benar-benar pemuda yang Soekarno harapkan? Apakah saya menjadi bagian dari Universitas Indonesia atau Institut Teknologi Bandung? Apakah saya masih dapat berkumpul dengan teman-teman saya sekarang? Apakah teman-teman saya menjadi orang berhasil sedangkan saya tidak? Apakah saya bertemu dengan "dia" lagi suatu saat dengan posisi yang berbeda? Bagaimana rupa jodoh saya nanti? Apakah saya bisa berbincang-bincang dengan teman lama saya di cafe/club jazz seperti di novel-novel?

Ya itulah pengandaian saya untuk kuliah dan kerja suatu hari nanti.

Sebetulnya, Saya iri dengan teman-teman atau kakak-kakak kelas saya, yang mendapat medali Olimpiade Sains Nasional, yang mendapat pertukaran pelajar keluar negeri, atau yang dapat kuliah di luar negeri. Mereka mendapat pengalaman ketika SMA yang dapat dibanggakan, giliran saya? apa? tidak ada.

Bukannya saya tidak bersyukur dengan apa yang saya dapatkan. Saya hanya ingin seperti mereka tapi nyatanya telat. Pelatihan OSN "bukan gue banget" dan pertukaran pelajar? saya terhenti di tahap 3 penyelisihan peserta AFS.

OSN dan AFS bukan indikator kebahagiaan atau suksesnya sesorang. Namun, ada kebahagian sendiri jika menadapat kesempatan-kesempatan ini, seperti kata tumblr fuckyeah.

***

Saya masih memiki satu setengah tahun lagi untuk mempersiapkan jawaban atas pengandaian saya. Usaha keras masih dibutuhkan, malah sangat dibutuhkan untuk pengandaikan kali ini dan pengandaian yang tidak terwujud, saya harap bukan kerikil tajam dalam langkah perwujudan pengandaian saya.

Tiga dari Sepuluh


Kami adalah tiga dari sepuluh pemuda yang diminta Soekarno untuk mengubah dunia.





(mengutip dari Gifari Rahmat A. dengan perubahan : kata saya menjadi kami dan satu menjadi tiga)

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswa, 21 Tahun. Belajar mengenai komunikasi dan media di sebuah perguruan tinggi.

Pengikut