Kamis, 17 Februari 2011

Antara Manajemen dan Politik

Pada hari Jum'at 11 Februari 2011, saya bersama Gifari RA, Saviq R, dan Ahmad S sedang berbincang ketika kami nebeng Ahmad S. Hari itu berbeda dengan biasanya, kami tidak lagi berbalasan lelucon. Kami membicarakan manajemen dan strategi....... Ya it could really happened to us.

Saviq R sedang membuka bisnis baru yang bergerak di bidang tekstil (Kalo dilihat baik-baik, ia seperti warga Arab yang sedang menjual kain di Pasar Baru). Tidak, ia bukan produsen, melainkan hanya distributor. Lalu kami berbinacang lagi, bagaimana bisnisnya, manajemennya, keuntungan, strategi, trik dan sebagainya. Saviq R pun menjawab dengan gayanya yang pasti. Nama-nama seperti Mario Teguh, John C Maxwell dan Richard Branson keluar dari mulut kami. Ya, kami serasa eksekutif kelas teri.

Kami semua yang berada dalam percakapan itu ingin sekali membuka bisnis jika dewasa nanti. Meraup keuntungan dengan teori-teori sok tahu kami. Namun, hal ini membuat saya tertegun. Ketiga teman saya adalah siswa dari kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sedangkan saya murid dari kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tapi malah mereka yang aktif berbicara adalah mereka bertiga. Buku-buku yang mereka baca juga sangat amat berbobot untuk ukuran anak SMA, seperti Bagaimana menjadi pemimpin yang berpengaruh (saya lupa judul pastinya yang jelas di cover bukunya ada kalimat ini), buku-buku karangan John C Maxwell tentang strategi dan Manejemen.

***

Saya yang notabane nya adalah anak IPS dan ingin menjadi mahasiswa FEUI jurusan Bisnis dan Manajemen, sangat tidak tertarik untuk membaca buku itu. Saya lebih tertarik untuk membaca biografi orang berpengaruh atau tentang politik. Semenjak saya kecil saya senang membaca biografi para tokoh perpengaruh dunia dengan media kartun dan saya telah membaca buku Catatan Seorang Demonstran (Gie), dan Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil (Seri Buku TEMPO : Bapak Bangsa). Lalu bukan berarti saya senang dengan dunia politik dan berniat menjadi bagiannya. Bukan-bukan. Istilahnya politik itu dramanya kehidupan penuh skandal dan ekspetasi yang tidak selamanya tepat. Jadi saya tertarik.
***

Kembali ke masalah awal. Mengapa saya ingin sekali masuk FEUI sedangkan minat saya adalah politik? Ketika saya membaca biografi pemimpin, saya sekaligus membaca cara berpikir mereka dan keadaan ketika mereka hidup. Para tokoh itu berani memperjuangkan ketidakadilan dalam bidangnya, Albert Schweitzer dalam pengorbanannya merawat rakyat Gabon dan meraih nobel perdamaian, Mahatma Gandhi dalam perjuangan rakyat India, Galileo Galilei dalam membela Copernicus dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang dibutuhkan si zaman dan bidangnya.

***

Lalu apa kolerasinya? Baik, apa yang sangat membuat masyarakat dari dulu sampai sekarang selalu terjadi ketidakadilan? ya, miskin jawabannya. Miskin harta, ilmu, moral dan sebagainya. Cita-cita saya adalah pengusaha mempunyai banyak uang dan akhirnya saya dapat mempunyai yayasan yang menangani ini semua. Ya itu harapan paling muluk dari saya. Jadi, karena minat saya yang berlebih pada bidang politik dan sejarah lewat para tokoh, saya sangat ingin menjadi kaya agar bisa menjadikan orang lain "kaya" seperti saya.

***

Pedati, tujuan kami, pun terlihat. Saya menambahkan cerita, "Jangan-jangan nanti lo semua kayak film 3 Idiots lagi. Hahaha. Jadi orang sukses semua ya". "Iya-iya gue jadi yang ngilangnya, Gifari jadi yang ayahnya sakit trus naik motor. Hahahah". Kalau begitu Ahmad yang menjadi fotografernya dan saya mungkin penonton dalam skenario hidup mereka. Malaikat dan Tuhan mencatat do'a kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Mahasiswa, 19 Tahun. Belajar mengenai komunikasi dan media di sebuah perguruan tinggi.

Pengikut