Minggu, 13 Maret 2011

Nilai dan Pengikut

Sedikit Intermezo bahwa mata saya bertambah minus-nya karena kebanyakan menangis.

***

Entah kenapa saya menyadari bahwa, Indonesia itu negeri nilai. Semua diukur oleh nilai. Baik nilai dalam angka maupun nilai sosial. Nilai yang sangat kaku. Nilai sosial? Dalam pelajaran Sosiologi ada yang nilai sosial, artinya : Nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat (sumber : Wikipedia).

Mengapa saya berkata bahwa Indonesia adalah negeri nilai?

Karena setiap tindakan yang dilakukan kebanyakan orang Indonesia selalu diperhitungkan. Pantas atau tidak? Benar atau tidak? Populer atau tidak? Untung atau tidak? Mendapatkan nilai tinggi atau tidak? Hal tersebut membuat kita terlalu takut untuk berhadapan dengan kalah dan risiko. Dan kita terbiasa untuk berpikit singkat tanpa memikirkan dampak dari "nilai-nilai" tersebut.

Misalnya:

Poin 1. Seorang yang bertanya pada gurunya, apakah tugas yang ia kerjakan mendapat nilai? Lalu masuk ke rapot, lalu masuk ke Ijazah, lalu bisa meluluskan anak ini suatu saat?

Poin 2. Seorang yang mengendari fixie karena teman-temannya memakainya. Kenapa ia tidak memakai sepeda kumbang, yang menurut saya lebih nyaman?

Poin 3. Seorang yang menjadi vegetarian karena si artis A juga vegetarian.

Point 4. Sebuah Orde yang menjadikan Indonesia swasembada pangan, namun berpuluh tahun kemudian menjadikan negara ini krisis pangan?

Poin 5. Para bangsawan awal penjajahan Indonesia mau bekerjasama dengan Belanda karena Belanda dianggap hebat dan bisa membantu mereka mendapat kekuasaan dari kerajaan lain di Indonesia.

Nilai-nilai ini membuat Indonesia melahirkan budaya baru (egois, poin 1,4, dan 5) dan memperkuat budaya lama (pengikut poin 2 dan 3).

Ya. Poin 4 saya baru membacanya hari ini di koran Kompas hal 23. Mengapa Indonesia krisis pangan? karena orang Indonesia terlalu bergantung pada nasi. Pada masa swasembada pangan, semua makanan berkarbohidrat diganti dengan nasi. Nasi, nasi dan nasi. Hingga sampai sekarang semua orang makannya nasi. Penduduk bertambah dan konsumsi pun meningkat. Sehingga terjadilah krisis pangan. Pada zaman itu "mungkin" sangatlah hebat jika melakukan swasembada pangan. Dianggap keren. Apalagi jika diawal pemerintahan Orde Baru yang baru saja diganti. Tapi dampaknya? Disinilah nilai sosial mengambil peran.

***

Bangsa ini seperti kehilangan jati diri, melihat yang pantas dan populer selalu diikuti, agar dapat dianggap oleh seluruh elemen dunia. Padahal jika kita bisa berpikir out of the box dan menjadi trendsetter, bukan kah kita yang di perhatian dan akhirnya dijadikan acuan? Berani berbeda, berfikir untuk kepentingan semua, dan untuk kebaikan dari hati nurani, itu kuncinya.

***

Pak Priyo, guru Sosiologi saya : Nilai itu penting, agar manusia selalu berusaha untuk mencapai nilai-nilai yang berada di masyarakat.

Saya setuju, cuma ya zaman berubah, masa acuan nilainya gak berubah?

3 komentar:

  1. Poin 2 tuh, orang indonesia latahan, satu fixie semua fixie, satu bb semua bb lolzzz

    BalasHapus
  2. setuju jeet sama looo! cie calon pengurus negara. go ajeet!!!!

    BalasHapus
  3. @Rhesa : iya rhes, apa2 ikut bangett. blm bisa bikin tren sendiri.

    @Ima : Nooo, gue pengusaha aja :P

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswa, 21 Tahun. Belajar mengenai komunikasi dan media di sebuah perguruan tinggi.

Pengikut