Gadis itu datang
Berkerudung panjang
Bermuka garang
Ia berpikiran putih dan fasih
Mambuatkan puisi untuk Tuhan Yang Maha Pengasih
dan juga untuk Merah Putih
Keputusannya sangat bulat
Ia ingin menjadi Albert
Bekerja di Afrika
dan menjadi orang yang mulia
Ia bertanya pada wanita yang ada di depannya
Mengapa si wanita begitu takut?
Selalu tidur dengan mimpi buruk
Terjaga hingga subuh
Menangis pada hal yang tak patut diberikan air mata
Mengapa si wanita begitu pengecut?
Tak berani ambil risiko untuk berhenti
Ketika hatinya berteriak pada sesuatu yang zalim
Malah bermuka manis pada mereka yang ogah untuk adil
Lalu mengumpatnya diam-diam dalam batin
Si wanita diam dan gadis mengisi ruang yang kelam dengan ucapannya yang tegas .
Si gadis bercerita tentang bagaimana ia menyayangi pohon-pohon di Kalimalang
atau sekedar menikmati pemandangan pepohonan tua di Kebun Raya
Si gadis begitu antusias
tentang glukosa yang berubah warna jika dikasih cairan iodin.
Wanita terkesima.
Ia sudah lupa kapan terakhir kali ia mencinta dengan tulus
kepada dunia yang dia geluti.
Ia membelai kepala gadis.
Sambil berkata : Terima kasih telah datang.
Gadis itu pergi
Tanpa sepatah kata
Meninggalkan sedikit ruang kepada wanita untuk kembali mencinta
Sabtu, 31 Oktober 2015
Tenggelam
Kita terbuai dengan kata-kata
Menikah dengan rima
Bermadu dengan serapan
Atau sekedar berjalan-jalan dengan titik koma
Mereka berkata kamu tidak layak
Kata mereka : kamu contoh dari mundurnya zaman
Kaku, baku, dan terlalu berliku-liku
Aku disuruh berpisah dari mu
Merasakan pola pikir baru yang lebih beradab
Naik ke permukaan dan berenang ke lautan lainnya
Aku tak bisa menolak
Aku akan ikuti permainan
Tapi kamu ingat satu hal
Keintiman kita tak akan pernah lepas
Kamu selalu ada dalam mimpiku
Kamu selalu hadir dalam lidahku
Membantuku menerjemahkan makna
Hadir dalam buku-buku ensiklopedi sederhana ku
Hadir dalam fiksi-fiksi yang mengajariku cara untuk mencinta
Sekali lagi aku tak mau melepaskanmu
Meski ku mati tenggelam di lautan seberang.
Menikah dengan rima
Bermadu dengan serapan
Atau sekedar berjalan-jalan dengan titik koma
Mereka berkata kamu tidak layak
Kata mereka : kamu contoh dari mundurnya zaman
Kaku, baku, dan terlalu berliku-liku
Aku disuruh berpisah dari mu
Merasakan pola pikir baru yang lebih beradab
Naik ke permukaan dan berenang ke lautan lainnya
Aku tak bisa menolak
Aku akan ikuti permainan
Tapi kamu ingat satu hal
Keintiman kita tak akan pernah lepas
Kamu selalu ada dalam mimpiku
Kamu selalu hadir dalam lidahku
Membantuku menerjemahkan makna
Hadir dalam buku-buku ensiklopedi sederhana ku
Hadir dalam fiksi-fiksi yang mengajariku cara untuk mencinta
Sekali lagi aku tak mau melepaskanmu
Meski ku mati tenggelam di lautan seberang.
Rabu, 23 September 2015
Senin, 14 September 2015
Tipe Anak Kuliah
"Ada dua tipe anak FK, kak. Yang emang dari dulu passionnya emang pingin jadi dokter harapan bangsa atau anak-anak ambisius yang gak punya passion sama sekali, tapi pingin cari aman dengan kerja jadi dokter"
"Dan ada dua tipe anak FISIP. Yang emang dari dulu suka banget sama ilmu sospol atau yang gagal keterima di jurusan-jurusan yang mereka mau"
"Dan ada dua tipe anak FISIP. Yang emang dari dulu suka banget sama ilmu sospol atau yang gagal keterima di jurusan-jurusan yang mereka mau"
Minggu, 13 September 2015
Les Miserables
"I know what kind of girl you are by knowing the fact that you cried over Les Miserables movie" - A Friend
Si Alan
Alan memeluku. Aku pun merunduk dan tak sengaja mencium
rambutnya. Seperti biasa, bau keringat bercampur bau tengik tertepa matahari.
Pantas saja. Ia masih mengenakan baju olahraga birunya yang dekil terkena
kotoran. Ia menangis. Mungkin juga tidak. Mungkin matanya hanya sembab. Ia
menatapku dengan senyuman jahilnya yang merasa bahwa ia bocah tertampan
seantero jagat. Kemudian aku tak bisa melihat senyumnya lagi karena ia sibuk memaikan abu dan pasir di tanah. Tak lama, ia juga memutar-mutar tanganku
dan berkata, “Jangan pergi kak”. Aku
membisu. Aku terbangun.
Jumat, 19 Juni 2015
Ujung jalan
Ia bagai titik di ujung sana
Tidak kemana-mana
Melambaikan tangan, seraya berkata :
"Kemari. Sedikit lagi. Sudah layu kah?"
Menggodaku dengan nafasnya yang terasa ringan
Bersenandung serasa tak ada apa apa
Lalu ia berlari ketika aku sudah hampir sampai
di titiknya, di ujung jalan.
Senyumnya menyeringai
Matanya semakin picik
Tangannya melambai lagi
"Sudahlah. Kau lelah. Berhenti saja"
Mana mungkin?
Berhenti tanda mati
Yang lemas akan terlindas
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- adindaz
- Mahasiswa, 21 Tahun. Belajar mengenai komunikasi dan media di sebuah perguruan tinggi.